Sekilas Jogja

Daerah Istimewa Yogyakarta saat ini merupakan daerah otonom setingkat propinsi yang dikepalai oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai kepala daerah. Undang-undang yang membentuk Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai daerah otonom ialah Undang-Undang No. 3 jo 19 tahun 1950, sedangkan yang memasukkan daerah enclave Kasunanan di Kabupaten Bantul dan daerah enclave Mangkunegaran di Kabupaten Gunungkidul ialah Undang-undang No. 14 tahun 1958.
Keadaan Alam
Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki luas daerah sekitar 3185,80 km persegi yang terbagi dalam :
v Kotamadya Yogyakarta (32,5 km persegi)
v Kabupaten Bantul (506,85 km persegi)
v Kabupaten KulonProgo (586,27 km persegi)
v Kabupaten GunungKidul (1485,36 km persegi)
v Kabupaten Sleman (574,82 km persegi)

Ditinjau dari segi astronomi, Daerah Istimewa Yogyakarta terletak pada 7'33'' - 8'12'' LS dan 100'00'' -110'50'' BT. Secara fisiografis, tersusun atas empat satuan yaitu Pegunungan Selatan, Gunung Api Merapi, dataran rendah antara Pegunungan Selatan dan Pegunungan Kulon Progo dan Dataran Rendah Selatan. Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan daerah setingkat propinsi dan beribukota di Yogyakarta.

Sejarah Kota Jogjakarta

Berdirinya Kota Yogyakarta berawal dari adanya Perjanjian Gianti pada Tanggal 13 Februari 1755 yang ditandatangani Kompeni Belanda di bawah tanda tangan Gubernur Nicholas Hartingh atas nama Gubernur Jendral Jacob Mossel. Isi Perjanjian Gianti : Negara Mataram dibagi dua : Setengah masih menjadi Hak Kerajaan Surakarta, setengah lagi menjadi Hak Pangeran Mangkubumi. Dalam perjanjian itu pula Pengeran Mangkubumi diakui menjadi Raja atas setengah daerah Pedalaman Kerajaan Jawa dengan Gelar Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Alaga Abdul Rachman Sayidin Panatagama Khalifatullah.

Adapun daerah-daerah yang menjadi kekuasaannya adalah Mataram (Yogyakarta), Pojong, Sukowati, Bagelen, Kedu, Bumigede dan ditambah daerah mancanegara yaitu; Madiun, Magetan, Cirebon, Separuh Pacitan, Kartosuro, Kalangbret, Tulungagung, Mojokerto, Bojonegoro, Ngawen, Selo, Kuwu, Wonosari, Grobogan.

Setelah selesai Perjanjian Pembagian Daerah itu, Pengeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I segera menetapkan bahwa Daerah Mataram yang ada di dalam kekuasaannya itu diberi nama Ngayogyakarta Hadiningrat dan beribukota di Ngayogyakarta (Yogyakarta). Ketetapan ini diumumkan pada tanggal 13 Maret 1755.

Tempat yang dipilih menjadi ibukota dan pusat pemerintahan ini ialah Hutan yang disebut Beringin, dimana telah ada sebuah desa kecil bernama Pachetokan, sedang disana terdapat suatu pesanggrahan dinamai Garjitowati, yang dibuat oleh Susuhunan Paku Buwono II dulu dan namanya kemudian diubah menjadi Ayodya. Setelah penetapan tersebut diatas diumumkan, Sultan Hamengku Buwono segera memerintahkan kepada rakyat membabad hutan tadi untuk didirikan Kraton.

Sebelum Kraton itu jadi, Sultan Hamengku Buwono I berkenan menempati pasanggrahan Ambarketawang daerah Gamping, yang tengah dikerjakan juga. Menempatinya pesanggrahan tersebut resminya pada tanggal 9 Oktober 1755. Dari tempat inilah beliau selalu mengawasi dan mengatur pembangunan kraton yang sedang dikerjakan.

Setahun kemudian Sultan Hamengku Buwono I berkenan memasuki Istana Baru sebagai peresmiannya. Dengan demikian berdirilah Kota Yogyakarta atau dengan nama utuhnya ialah Negari Ngayogyakarta Hadiningrat. Pesanggrahan Ambarketawang ditinggalkan oleh Sultan Hamengku Buwono untuk berpindah menetap di Kraton yang baru. Peresmian mana terjadi Tanggal 7 Oktober 1756.

Kota Yogyakarta dibangun pada tahun 1755, bersamaan dengan dibangunnya Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I di Hutan Beringin, suatu kawasan diantara sungai Winongo dan sungai Code dimana lokasi tersebut nampak strategis menurut segi pertahanan keamanan pada waktu itu. Sesudah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII menerima piagam pengangkatan menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Propinsi DIY dari Presiden RI, selanjutnya pada tanggal 5 September 1945 beliau mengeluarkan amanat yang menyatakan bahwa daerah Kesultanan dan daerah Pakualaman merupakan Daerah Istimewa yang menjadi bagian dari Republik Indonesia menurut pasal 18 UUD 1945. Dan pada tanggal 30 Oktober 1945, beliau mengeluarkan amanat kedua yang menyatakan bahwa pelaksanaan Pemerintahan di Daerah Istimewa Yogyakarta akan dilakukan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII bersama-sama Badan Pekerja Komite Nasional

T-Shirt / Kaos Oblong


Produk T-Shirt / Kaos Oblong unik khas Jogjakarta yang cukup ternama antara lain Dagadu, Jaran dan Sarapan.

Oblong Dagadu didesain dengan ciri khas terletak pada gambar ala kartun, kata - kata plesetan dan kalimat - kalimat semboyan yang menarik untuk direnungkan tapi disampaikan dengan gaya lucu. Selain oblong yang menjadi andalan, Dagadu juga memproduksi berbagai souvernir lain dengan konsep desain grafis yang sama seperti topi, striker, dompet, mug, gantungan kunci dan sebagainya.

Beda dengan oblong Dagadu, yang bernuansa ngepop, oblong Jaran lebih berciri etnik dengan menampilkan desain khas etnik Nusantara seperti tokoh wayang, relief candi, ukiran Kalimantan, patung Asmat dan sebagainya.

Sementara itu oblong Sarapan mempunyai kekhasan desain yang berbeda. Kaos Ini menampilkan tokoh - tokoh komik terkenal Perancis, Tintin dan Asterix Obelix dengan setting tempat obyek - obyek wisata Indonesia, temasuk Jogjakarta seperti Tintin di Malioboro, Tintin di Kapuas, Thompson-Thompson di Taman Sari dan sebagainya.

Pasar Klithikan


Selain pasar seperti yang umum dikenal, ada yang disebut pasar klithikan, pasar yang khusus menjual barang bekas alias pasar loak. Sebelum Pasar Beringharjo direnovasi pada tahun 1991, pusat penjualan barang - barang bekas ada di pasar ini. Setelah renovasi usai, banyak penjual barang bekas yang memilih keluar dari pasar karena mereka ditempatkan di lantai tiga dan harus membayar retribusi lebih mahal. Beberapa dari mereka memindahkan tempat jualan di trotoar alun - alun selatan. Sekarang trotoar di sekeliling alun - alun selatan sudah menjadi pasar klithikan. Barang dagangannya sangat beragam, mulai dari barang elektronik, handphone, orderdil mobil, lampu antik, sepeda sampai sepatu bekas dan sepatu sortiran pabrik.

Pada krisis ekonomi tahun 1997 terjadi boom perdagangan barang bekas di Jogjakarta. Dimulai oleh beberapa penjual yang menggelar dagangannya di jalan Asem Gede, di daerah Kranggan, kini ruas - ruas jalan di sekitarnya sudah penuh oleh penjual barang bekas dan menjadi pasar klithikan. Seperti mengulang sejarah perkembangan pusat perdagangan di Jogjakarta, dari Kranggan, pasar klithikan meluas ke arah selatan, memenuhi sisi sepanjang jalan Mangkubumi. Seiring dengan waktu, kini pasar klithikan menempati tempat di jalan HOS. Cokroaminoto, dengan nama Pasar Klithikan Pakuncen.

Keberadaan pasar klithikan yang sedemikian meluas semakin memperkuat ciri "ekonomi skala kecil" pada sebagian besar masyarakat Jogjakarta.
 
Powered By Blogger | Portal Design By Bila Tour and Travel © 2009 | Resolution: 1024x768px | Best View: Firefox | Top